Sumber: Empat Mata | Tanggal: 8 Oktober 2026 | Laporan Khusus
BANDUNG — Sering dipanggil dengan sebutan “Gubernur Konten”, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi tidak berhenti berkarya di dunia maya. Banyak yang mengira ia sekadar ingin tampil, tetapi jawabannya ternyata jauh lebih dalam dan bermakna!
Dalam perbincangan terbuka bersama Rosi Silalahi di program Empat Mata, Dedi membuka jati diri: konten yang ia buat bukan sekadar soal popularitas atau pamer aktivitas.
“Saya memvisualisasikan apa yang saya lihat, dengar, dan rasakan di lapangan lewat YouTube. Bukan untuk menjadi terkenal, tapi agar apa yang terjadi di tengah masyarakat bisa dilihat semua orang — dan segera ditindaklanjuti.”
Bukan Sekadar Unggahan, Ini Adalah “Jendela Lapangan”
Bagi Dedi, media sosial bukan tempat pamer gaya hidup pribadi. Baginya, layar ponsel dan saluran YouTube menjadi mata publik yang tak tertutup tembok:
- Saat menemukan jalan rusak → direkam, diunggah, lalu perbaikan segera dikerjakan
- Saat melihat rumah warga yang membutuhkan perhatian → ditampilkan, bantuan segera diarahkan
- Saat menemukan sekolah yang kurang layak → disebarkan, perbaikan dan perhatian segera diupayakan
Ia mencontohkan: sudah banyak jalan yang dulunya berlubang, setelah ditampilkan lewat konten, kini mulus kembali. Rumah warga dan gedung sekolah yang terabaikan pun ikut tersentuh perhatian pemerintah.
“Kalau saya diam saja, siapa yang tahu? Kalau saya tampilkan, semua orang tahu — dan urusan itu tidak bisa ditunda lagi.”
PERTANYAAN BESAR: Bekerja Diam-Diam, atau Bekerja Terlihat Terang?
Praktek ini memicu perdebatan menarik di kalangan masyarakat dan pengamat pemerintahan:
Table
| Pandangan A: Harus Aktif Berkonten ✅ | Pandangan B: Cukup Bekerja Diam-Diam ⚖️ |
|---|---|
| Masyarakat bisa langsung tahu kondisi asli daerahnya | Kepala daerah sebaiknya fokus bekerja, bukan mencari panggung |
| Tekanan publik mempercepat penanganan masalah | Hasil kerja nyata lebih berbicara daripada ribuan unggahan |
| Transparansi terjaga — tidak ada yang disembunyikan | Risiko terkesan mencari simpati atau citra pribadi |
| Warga bisa ikut memantau kemajuan penyelesaian masalah | Fokus sebaiknya ke kebijakan menyeluruh, bukan kasus per kasus |
Inti Pesan: Tampil atau Tidak, Yang Penting Rakyat Terlayani
Menanggapi perdebatan ini, Dedi menyatakan tidak memaksakan caranya untuk diikuti semua pemimpin:
“Boleh saja pemimpin lain memilih bekerja tanpa banyak tampil, itu haknya. Yang penting rakyatnya terlayani. Kalau dengan cara saya — menampilkan apa yang ada di depan mata — masalah bisa cepat selesai, mengapa tidak?”
Bagi Dedi, ukurannya sederhana: apakah masalah warga terselesaikan atau tidak? Selama konten mampu mempercepat perbaikan jalan, rumah, dan sekolah, maka ia akan terus melakukannya — tak peduli apa pun sebutan orang.





Tinggalkan Balasan